LANDASAN HISTORIS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI KALIMANTAN SELATAN: TRASFORMASI DARI TRADISI PESANTREN KE KURIKULUM NASIONAL
Abstract
Abstract
This study examines the historical transformation of Islamic Religious Education (PAI) in South Kalimantan, focusing on how pesantren institutions responded to the implementation of the National Curriculum policy. Historically, PAI in the region was dominated by autonomous salaf pesantren traditions centered on kitab kuning studies and the authority of the Tuan Guru. State intervention following independence, particularly the 1975 Joint Decree of Three Ministers (SKB 3 Menteri), required pesantren to adopt the national curriculum for formal recognition, creating institutional challenges. This research employs a qualitative approach using library research and historical analysis. The findings reveal that pesantren responses did not reflect total resistance or full assimilation, but rather a process of curricular negotiation. This negotiation resulted in two hybrid models: the historical adaptation (dual-system) model, which maintains traditional learning while adopting formal educational structures, and the modern integration model, which incorporates the national curriculum alongside traditional content from the outset. The study concludes that this hybrid consensus enables pesantren to preserve religious identity while securing formal legitimacy and socio-economic mobility for students.
Abstrak
Penelitian ini menganalisis proses transformasi historis Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kalimantan Selatan dengan menyoroti dinamika respons lembaga pesantren terhadap penerapan kebijakan Kurikulum Nasional. Secara historis, PAI di Kalimantan Selatan didominasi oleh tradisi pesantren salaf yang otonom, berpusat pada otoritas Tuan Guru dan kajian kitab kuning. Intervensi negara pascakemerdekaan, khususnya melalui kebijakan SKB Tiga Menteri tahun 1975 yang mensyaratkan adopsi kurikulum umum untuk pengakuan formal, menimbulkan dilema kelembagaan bagi pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons pesantren tidak bersifat asimilatif maupun resistif secara total, melainkan melalui proses negosiasi kurikuler. Proses ini melahirkan dua model pendidikan hibrid, yaitu model adaptasi historis (sistem ganda) yang mempertahankan tradisi pembelajaran kitab kuning sekaligus mengadopsi struktur pendidikan formal, serta model integrasi modern yang sejak awal menggabungkan kurikulum nasional dengan konten tradisional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsensus hibrid tersebut memungkinkan pesantren mempertahankan identitas keagamaan sekaligus memperoleh legitimasi formal dan mobilitas sosial-ekonomi bagi santri.Keywords
Full Text:
PDFReferences
Alfarisi, Salman, dan Yunus Abu Bakar. “SKB 3 menteri dan implikasinya pada pendidikan Islam.” Al-Fikr: Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 1 (2022): 1–9.
Amrullah, Amrullah. “Eksistensi Pendidikan Islam di Era Perkembangan Teknologi dan Informasi.” MODELING: Jurnal Program Studi PGMI 9, no. 2 (2022): 234–47. https://doi.org/https://doi.org/10.69896/modeling.v9i2.1241.
Atikah, Suci Nur, Umi Fitriyah, dan Winda Zulfatun Nikmah. “Integrasi Kurikulum Nasional dalam Sistem Pendidikan Pesantren di Indonesia.” Proceedings Series on Social Sciences & Humanities 24 (2025): 611–19. https://doi.org/https://doi.org/10.31943/jurnal_risalah.v10i4.1210.
Audi, Achmad Audi Pratama Jojang, Tasman Hamami, Moh Luthfih Gonibala, dan Farhan Moh Fahrurozi Bonde. “Perkembangan dan Problematika Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Indonesia.” Risâlah Jurnal Pendidikan dan Studi Islam 10, no. 4 (2024): 1648–64.
Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: tradisi dan modernisasi di tengah tantangan milenium III. Prenada Media, 2019.
Bensaid, Benaouda, Salah Ben Tahar Machouche, dan Mustafa Tekke. “An Islamic Spiritual Alternative to Addiction Treatment and Recovery.” Al-Jami’ah 69, no. 1 (2021): 127–62. https://doi.org/10.14421/ajis.2021.591.127-162.
Bhabha, Homi K. “The postcolonial and the postmodern: The question of agency.” The location of culture, 1994, 171–97.
Burhanudin, Tamyiz. Akhlak Pesantren Solusi bagi Kerusakan Akhlak. Ittaqa Press, 2001.
Daud, Alfani. ISLAM DAN MASYARAKAT BANJAR; Diskripsi dan Analisa Kebudayaan Banjar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1997.
Dhofier, Zamakhsyari. “Tradisi pesantren: Studi tentang pandangan hidup kyai.” (No Title), 1982.
H Hasni Noor, H. “Dinamika Kurikulum Pondok Pesantren di Kalimantan Selatan (Studi Pada Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Ibnul Amin Pamangkih, Al-Falah Banjarbaru dan Darul Ilmi Banjarbaru),” 2017. https://idr.uin-antasari.ac.id/7754/.
Indonesia, Republik. Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (1989).
———. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003).
Insyirah, Insyirah. “INTEGRASI NILAI-NILAI KEISLAMAN DAN NILAI-NILAI KEBANGSAAN PADA PONDOK PESANTREN DARUSSALAM MARTAPURA, PONDOK PESANTREN AL FALAH LANDASAN ULIN BANJARBARU DAN PONDOK PESANTREN DARUL HIJRAH CINDAI ALUS BANJARBARU.” PROCEEDING UMSURABAYA 1, no. 1 (2022).
Kholik, Muhammad, dan others. Politik Pendidikan Islam. AE Publishing, 2025.
Kuntowijoyo, P D R. Pengantar ilmu sejarah. Yayasan Bentang Budaya, 2005.
Laila, Itsna Noor. “Eksistensi, Problematika dan Titik Temu Pesantren Dalam Perkembangan Pendidikan di Indonesia.” FATAWA: Jurnal Pendidikan Agama Islam 5, no. 2 (2025): 122–36. https://doi.org/https://doi.org/10.37812/fatawa.v5i2.2091.
Maduningtias, Lucia. “Manajemen integrasi kurikulum pesantren dan nasional untuk meningkatkan mutu lulusan pesantren.” Al-Afkar, Journal For Islamic Studies, 2022, 323–31. https://doi.org/https://doi.org/10.31943/afkarjournal.v5i4.378.
Mauludiyah, Laila, Ainiyyah Yafiatuzabrina, dan Heny Kusmawati. “Perkembangan Pendidikan Indonesia Setelah Tahun 1965 Sampai Runtuhnya Orde Baru.” EDUCATIONIST: Journal of Educational and Cultural Studies 2, no. 1 (2023): 173–85.
Mesi, Mesi. “MODEL KURIKULUM SD, MI, SMP, DAN MTS, DAN PERBEDAAN KURIKULUMNYA (SECARA SPESIFIK).” Al-SAMBASY: Jurnal Kajian Pendidikan 1, no. 1 (2024): 8–13. https://doi.org/https://doi.org/10.5281/zenodo.16916409.
Miles, Matthew B, A Michael Huberman, dan Johnny Saldana. “Qualitative data analysis: A methods sourcebook.” (No Title), 2014.
Mujiburrahman, M. Zainal Abidin, dan Rahmadi. “Ulama Banjar Kharismatik Masa Kini Di Kalimantan Selatan: Studi Terhadap Figur Guru
Bachiet, Guru Danau, dan Guru Zuhdi Mujiburrahman, M. Zainal Abidin, dan Rahmadi *” 11, no. 2 (2012): 65–68.
Nata, H Abuddin. Manajemen pendidikan: Mengatasi kelemahan pendidikan Islam di Indonesia. Kencana, 2012.
Neliwati, Neliwati, Hikmah Bayani Situmorang, dan Putri Maymuhamna Rahayu. “Kebijakan Kurikulum Merdeka Belajar di Sekolah.” Jurnal Penelitian, Pendidikan Dan Pengajaran: JPPP 4, no. 2 (2023): 117–20. https://doi.org/https://doi.org/10.30596/jppp.v4i2.15475.
Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam : Menelusuri Jejak Sejarah Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.
Qomariah, Rafi’atun Najah, Wa Muna, dan Mursyidatul Awaliyah. “Sistem Pendidikan Islam Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru Kalimantan Selatan (Integrasi Sekolah dan Pesantren).” Tarbawi 9, no. 02 (2021): 28–46. https://doi.org/https://doi.org/10.62748/tarbawi.v9i02.66.
Rini, Dike Asta, Naima Audia Rahmah, dan Norsahidatun Nafisah. “Peran Pondok Pesantren Dalam Penyebaran Islam Di Kalimantan Selatan.” Al-Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya 3, no. 6 (2024): 2555–62.
Robertson, Roland. “Globalization: Social theory and global culture.” Sage, 1992.
Salam, Abdul, dan others. “PEMIKIRAN KH BADARUDDIN TENTANG PEMBAHARUAN PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN DARUSSALAM MARTAPURA.” Al-Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman 8, no. 1 (2009).
Sari, Diah Ayu Puspita, dan others. “Transformasi Kurikulum di Pondok Pesantren Modern: Integrasi Pendidikan Islam dan Umum dalam Era Globalisasi.” Didaktika: Jurnal Kependidikan 14, no. 1 Februari (2025): 1407–16. https://doi.org/https://doi.org/10.58230/27454312.1532.
Steenbrink, Karel A. “Pesantren, madrasah, sekolah: pendidikan Islam dalam kurun moderen.” (No Title), 1986.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2016.
Syamli, Ah, dan Ahmad Faris. “Modernisasi Pesantren di Indonesia: Dialektika Antara Tradisi dan Transformasi Pendidikan Islam Kontemporer.” Jurnal Pemikiran dan Ilmu Keislaman 8, no. 1 (2025): 157–79.
Tamim, Rouf. “Pendidikan Islam Di Indonesia (Model Pesantren Dan Madrasah).” At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam 2, no. 1 (2024): 476–93.
TIFTAZANI, SYAZA, dan BUDI PURWOKO. “INOVASI PEMBELAJARAN MENGGUNAKAN HYBRID CURRICULUM DI AQOBAH INTERNASIONAL SCHOOL JOMBANG.” EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran 4, no. 4 (15 Januari 2025): 478–90. https://doi.org/10.51878/educational.v4i4.4164.
Yunita, Yunita, Ahmad Zainuri, Ibrahim Ibrahim, Ahmad Zulfi, dan Mulyadi Mulyadi. “Implementasi kurikulum merdeka belajar.” Jambura Journal of Educational Management, 2023, 16–25. https://doi.org/https://doi.org/10.37411/jjem.v4i1.2122.
Zed, M. Metode Penelitian Kepustakaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2008.
Zulkifli, Zulkifli, M Khatami, dan others. “Negosiasi Pendidikan Islam Dan Teknologi Terhadap Perubahan Global ‘Sebuah Responisasi Terhadap Era Revolusi Industri 4.0.’” Darajat: Jurnal Pendidikan Agama Islam 6, no. 2 (2023): 103–12. https://doi.org/https://doi.org/10.58518/darajat.v6i2.1821.
DOI: https://doi.org/10.62748/tarbawi.v13i2.297
Refbacks
- There are currently no refbacks.
Indexex By ;
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

TARBAWI Journal is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License







